Serial Webinar: Soroti Perubahan Akses Informasi dan Pengetahuan, Lalu di Mana Posisi Perpustakaan?
Gedung Perpustakaan UIN Jakarta, Serial Webinar — Perubahan cara akses informasi dan pengetahuan hari ini bergerak jauh lebih cepat, jika dibandingkan satu dekade lalu. Pasalnya, dalam hitungan detik, seseorang dapat menemukan ratusan bahkan ribuan jawaban melalui mesin pencari, media sosial, hingga platform berbasis kecerdasan buatan (AI). Perubahan ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan pergeseran mendasar dalam cara manusia mengakses informasi dan pengetahuan.
Di tengah perubahan itu, muncul pertanyaan: apakah perpustakaan masih relevan ketika hampir semua informasi tersedia di internet?
Pertanyaan tersebut menjadi sorotan dalam serial webinar ‘Gema Literasi Ramadhan 1447 H’ yang digelar oleh Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bersama UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, pada Senin (09/03) kemarin. Webinar yang bertajuk “Sinergi Literasi Tanpa Batas: Transformasi Perpustakaan Digital dalam Syiar Islam” ini tidak hanya membahas teknologi, tetapi menyikap perubahan lanskap pengetahuan di era digital.
Diikuti peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, pustakawan, hingga pegiat literasi dari berbagai daerah turut meramaikan diskusi secara daring melalui sambungan Zoom Meeting. Narasumber Dr. Eng. Budi Nugroho, Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), memaparkan bagaimana transformasi digital telah mengubah pola pencarian informasi masyarakat secara drastis.
Menurutnya, masyarakat —termasuk umat Muslim, kini semakin sering menjadikan media sosial dan platform digital sebagai rujukan awal untuk memahami isu keagamaan. Fenomena ini menunjukkan bahwa otoritas pengetahuan tidak lagi hanya berada di ruang akademik atau perpustakaan, melainkan menyebar ke ruang digital yang jauh lebih terbuka.
“Dulu orang mencari kitab atau buku rujukan ke perpustakaan. Sekarang banyak yang langsung membuka internet atau media sosial. Ini realitas baru yang tidak bisa dihindari,” ujar Budi.
Namun, perubahan tersebut bukan tanpa konsekuensi. Di satu sisi, akses informasi menjadi semakin cepat dan luas. Di sisi lain, risiko disinformasi dan hoaks keagamaan juga semakin besar ketika informasi beredar tanpa proses verifikasi yang memadai.
Karena itu, Budi menilai perpustakaan tidak boleh sekadar bertahan sebagai penyedia koleksi buku. Lebih dari itu, perpustakaan harus bertransformasi menjadi kurator pengetahuan digital yang mampu memastikan kualitas dan kredibilitas informasi yang beredar.
Namun persoalannya, banyak perpustakaan masih bergerak dengan logika lama: mengandalkan koleksi fisik dan layanan konvensional. Sementara itu, ruang diskusi dan pencarian pengetahuan telah berpindah ke platform digital yang jauh lebih dinamis.
Di sinilah muncul kesenjangan antara kecepatan perkembangan teknologi dan adaptasi institusi pengetahuan.
Transformasi Digital sebagai Keniscayaan
Lebih lanjut dalam paparannya, Budi menekankan bahwa teknologi mutkahir seperti Artificial Intelligence (AI), Big Data, dan Cloud Computing bukan lagi tren teknologi, melainkan instrument penting untuk menjaga dan mengembangkan khazanah intelektual Islam.
Salah satu contoh adalah digitalisasi manuskrip klasik Islam atau turats. Melalui teknologi AI, naskah kuno yang telah pudar dapat dipindai, diperjelas, bahkan dibaca kembali secara digital. Teknologi yang sama juga mampu membantu proses klasifikasi koleksi secara otomatis sehingga memudahkan pencarian informasi oleh pengguna.
Namun digitalisasi bukan sekadar memindahkan buku dari rak ke layar komputer. Transformasi ini juga menyangkut perubahan paradigma pengelolaan pengetahuan.
Perpustakaan tidak lagi hanya menyimpan informasi, melainkan harus mampu menghubungkan, mengkurasi, dan memverifikasi pengetahuan yang beredar di ruang digital.
Ancaman Kesenjangan Digital
Di sisi lain, digitalisasi juga memunculkan tantangan baru berupa kesenjangan akses teknologi atau digital divide. Tidak semua wilayah di Indonesia memiliki akses internet yang stabil. Banyak daerah yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur digital.
Karena itu, menjawab persoalan tersebut, Budi mengusulkan model Hybrid Library atau perpustakaan hibrida. Model ini menggabungkan layanan digital dengan layanan fisik sehingga masyarakat tetap dapat mengakses pengetahuan meskipun berada di wilayah dengan keterbatasan teknologi.
Pendekatan ini juga menunjukkan bahwa transformasi digital tidak berarti meninggalkan perpustakaan fisik sepenuhnya. Sebaliknya, perpustakaan justru harus mampu mengintegrasikan dua dunia sekaligus: ruang fisik dan ruang digital.
Pustakawan sebagai Arsitek Pengetahuan
Perubahan lanskap informasi juga membawa konsekuensi terhadap profesi pustakawan. Jika sebelumnya pustakawan dikenal sebagai penjaga koleksi buku, kini peran tersebut berkembang menjadi pengelola arsitektur pengetahuan digital.
Pustakawan dituntut memiliki kemampuan baru, mulai dari bagaimana algoritma bekerja, bagaimana data disusun, dan bagaimana informasi dikurasi agar tetap kredibel. Dalam konteks literasi keislaman, kemampuan ini menjadi sangat penting untuk mencegah penyebaran hoaks atau tafsir keagamaan yang tidak memiliki dasar ilmiah.
“Perpustakaan digital harus menjadi hub syiar aktif yang mampu melawan disinformasi dan hoaks keagamaan melalui prinsip tabayyun digital,” ujar Budi.
Konsep tabayyun digital merujuk pada upaya proses verifikasi dan klarifikasi informasi sebelum disebarluaskan. Prinsip ini menjadi penting di era ketika informasi dapat menyebar sangat cepat, tanpa proses penyaringan yang memadai.
Kolaborasi untuk Masa Depan Literasi
Diskusi dalam webinar juga menyoroti pentingnya kolaborasi antar institusi pendidikan Islam dalam membangun ekosistem pengetahuan yang lebih terbuka. Salah satu gagasan yang muncul dalam diskusi yang berlangsung dinamisa, adalah pengembangan repositori bersama atau Islamic Open Science, yang memungkinkan perguruan tinggi berbagi sumber daya ilmiah secara kolaboratif.
Kolaborasi semacam ini menjadi penting karena tantangan literasi di era digital tidak dapat dihadapi oleh satu institusi saja. Dibutuhkan jaringan pengetahuan yang saling terhubung agar sumber informasi yang kredibel tetap dapat diakses oleh masyarakat luas.
Di era ketika setiap orang dapat memproduksi dan menyebarkan informasi, keberadaan institusi yang mampu menjaga kualitas pengetahuan menjadi semakin krusial.
Dengan berakhirnya sesi kedua ini, rangkaian Gema Literasi Ramadhan 1447 H diharapkan dapat menjadi refleksi sekaligus inovasi bagi institusi pendidikan Islam untuk terus memperkuat peran perpustakaan dalam ekosistem pengetahuan digital.
baca juga:
serial webinar >> Kolaborasi Epik: UIN Jakarta dan UIN Ponorogo Serukan Hikmah Ramadhan sebagai Tadabbur Literasi
Sebab pada akhirnya, pertarungan di era informasi yang paling dibutuhkan masyarakat bukan sekadar akses, melainkan kepercayaan terhadap pengetahuan yang mereka baca.
(Kontributor: Maryulisman; Desain: Ilustrasi AI; Penyunting: Agus Rifai/Rizki Mulyarahman)
Untuk update berita dan informasi lebih lanjut, bisa di akses:





