Kolaborasi Epik: UIN Jakarta dan UIN Ponorogo Serukan Hikmah Ramadhan sebagai Tadabbur Literasi
Webinar Online – Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo menunjukkan bahwa Ramadhan bukan hanya ruang ibadah personal, tetapi momentum penguatan literasi. Kolaborasi dua perguruan tinggi Islam yang dikemas dalam serial webinar menghadirkan ruang temu penggiat literasi lintas kampus.
Serial pertama, yang diselenggarakan pada hari Rabu (04/03) kemarin, bertajuk: “Jendela Ilmu, Pintu Ibadah: Menemukan Hikmah Ramadhan melalui Literasi”. Kegiatan yang diselenggarakan secara daring melalui sambungan platform Zoom Meeting itu diikuti ratusan peserta dari berbagai latar belakang —mulai mahasiswa, dosen, pustakawan, hingga pegiat literasi dari berbagai daerah dan perguruan tinggi lainnya.
Sejak layar virtual dibuka mulai pukul 10.00 WIB, wajah-wajah mahasiswa, dosen, pustakawan, hingga pegiat literasi memenuhi ruang digital. Ada yang mengikuti dari ruang kerja kampus, ada pula yang menyimak dari rumah. Di tengah suasana Ramadhan, diskusi literasi terasa hangat dan reflektif.
Dalam keterangannya, Kepala Perpustakaan UIN Jakarta, Agus Rifai, mengapresiasi antusiasme peserta yang memadati ruang webinar. Beliau menegaskan bahwa literasi dan ibadah di bulan Ramadhan tidak boleh berhenti pada aktivitas seremonial semata. “Ramadhan adalah momentum untuk menyelaraskan kekuatan spiritual dan intelektual. Perintah pertama dalam Islam adalah iqra. Itu artinya, kualitas ibadah kita tak bisa dilepaskan dari kualitas bacaan dan pengetahuan kita,” ujar Agus Rifai.
Beliau menambahkan, perpustakaan hari ini tidak lagi cukup menjadi “gudang buku”. Perpustakaan harus menjadi ruang hidup yang mendorong tradisi berpikir kritis dan tadabbur, terutama di bulan suci Ramadhan.
Ramadhan dan Nutrisi Akal
Narasumber dalam kesempatan kali ini, Suherman —penulis, dan penggiat literasi, dalam paparannya menekankan bahwa Ramadhan adalah waktu terbaik memberi ‘nutrisi’ bagi akal. “Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, namun juga momen terbaik untuk memberi nutrisi bagi akal. Membaca buku yang bermanfaat adalah bentuk tadabbur atas kebesaran Allah SWT, sehingga jendela ilmu yang kita buka akan membimbing kita menuju pintu ibadah yang lebih khusyuk,” ujarnya.
Lebih lanjut, menurut Suherman, ibadah tanpa pengetahuan rentan menjadi rutinitas tanpa makna. Sebaliknya, literasi yang kuat akan memperdalam kualitas ibadah, memperkaya refleksi, dan menguatkan kesadaran sosial.
Dalam konteks pendidikan tinggi Islam, literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca teks, tetapi juga membaca realitas sosial, membaca diri, dan membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Pernyataan tersebut disambut anggukan dari para peserta. Di kolom chat, ada yang baru menyadari bahwa aktivitas membaca —yang sering dianggap sebatas tugas akademik semata.
Literasi dan Perpustakaan sebagai Arena Peradaban Intelektual
Kolaborasi antara UIN Jakarta dan UIN Ponorogo ini memperlihatkan bahwa transformasi literasi di era digital tidak lagi mengenal batas geografis. Dengan platform daring, diskusi keilmuan dapat menjangkau lebih luas dan inklusif.
Serial webinar ini akan berlanjut pada Senin (09/03) dengan tema “Sinergi Literasi Tanpa Batas: Transformasi Perpustakaan Digital dalam Syiar Islam”. Kegiatan tersebut akan menghadirkan Budi Nugroho, Ph.D, Peneliti Ahli Madya dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Tema tersebut dinilai relevan di tengah percepatan digitalisasi perpustakaan dan kebutuhan akses informasi yang cepat serta terpercaya. Transformasi perpustakaan digital diharapkan tidak hanya memudahkan akses, tetapi juga menjadi media syiar Islam berbasis pengetahuan.
Kolaborasi epik UIN Jakarta dan UIN Ponorogo ini mengirim pesan yang kuat: Ramadhan di tengah zaman yang serba instan, ibadah dan ilmu tidak boleh dipisahkan. Ramadhan bukan hanya momentum spiritual tahunan, melainkan kesempatan membangun tradisi tadabbur literasi. Dari ruang-ruang sunyi perpustakaan, tidak sekadar menjadi tempat belajar, melainkan ruang pembentuk peradaban intelektual yang berkelanjutan.
(Kontributor: Maryulisman; Penyunting: Agus Rifai/Rizki Mulyarahman)
Untuk update berita dan informasi lebih lanjut, bisa di akses:





