Innamal A’maalu bin Niyyat: Hadits Singkat Ini Bikin Kita Mikir Ulang!
Gedung Perpustakaan UIN Jakarta, Kultum Ramadhan – Momentum Ramadhan, identik dengan peningkatan ibadah. Masjid dan Mushollah lebih ramai, sedekah lebih sering, tilawah lebih panjang dari biasanya. Namun, suasana Ramadhan 1447 Hijriah di Perpustakaan Universitas Islam (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta terasa berbeda.
Usai Shalat Dzuhur berjama’ah, kegiatan dilanjutkan dengan kuliah tujuh menit (kultum) Ramadhan yang disampaikan Kepala Perpustakaan UIN Jakarta, Agus Rifai, Kamis (19/02) kemarin.
Tema yang diangkat bukan soal keutamaan puasa atau pahala berlipat. Agus Rifai justru memilih hadits pertama dalam kitab Arba’in an-Nawawi, karya ulama besar abad ke-13, Imam Nawawi (w. 1227 M).
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab dan tercantum Shahih Bukhari serta Shahih Muslim. Tapi, siang itu hadits tersebut terasa lebih seperti cermin. Dalam kultumnya, Agus Rifai menekankan bahwa Imam Nawawi menempatkan hadits tentang niat di urutan pertama, bukan tanpa alasan. “Niat adalah fondasi dari seluruh amal. Tanpa niat yang benar, ibadah bisa kehilangan ruhnya,” ujar Agus Rifai.
Lebih lanjut, menurutnya, di bulan Ramadhan, ketika intensitas ibadah meningkat, pertanyaan tentang niat menjadi semakin relevan. “Ramadhan ini kita mungkin sibuk memperbanyak amal. Tapi jangan-jangan kita lupa memperbaiki niat,” ujar Agus Rifai.
Suasana mendadak hening
Agus Rifai menjelaskan, tanpa niat yang benar, shalat bisa sekadar gerakan fisik. Puasa bisa hanya menjadi lapar dan dahaga. Bahkan, sedekah pun bisa berubah jadi ajang pencitraan. “Jika amal itu tubuh, maka niat adalah ruhnya. Tanpa niat, amal hanyalah gerak. Dengan niat, amal menjadi ibadah,” ujar Agus Rifai.
Kalimat itu sederhana, namun menyentuh.
Agus Rifai kemudian melanjutkan pesan dan mengajak melihat realitas yang lebih luas. Ia mencontohkan, Dua orang bisa melakukan aktivitas sama —mengajar, bekerja, berdonasi, memimpin. Namun nilainya di sisi Allah bisa sangat berbeda.
Yang satu karena Allah.
Yang lain karena reputasi.
Yang satu karena amanah.
Yang lain karena ambisi.
Secara lahir sama, namun secara batin berbeda. Pesan itu menggambarkan dimensi spiritual Islam yang tidak hanya menilai tindakan, tetapi juga motif di baliknya. Dalam tradisi keilmuan Islam, niat bahkan di pandang sebagai penentu kualitas moral seseorang.
Di tengah budaya media sosial dan personal branding, hadits tentang niat seolah menjadi alarm moral. Banyak aktivitas keagamaan dipublikasikan, banyak kebaikan ditampilkan. Namun Islam, melalui hadits ini, justru mengarahkan perhatian ke dalam diri.
Pada akhirnya, kegiatan kultum dan shalat Dzuhur berjama’ah yang digelar Perpustakaan UIN Jakarta ini menjadi ruang refleksi di tengah kesibukan kampus. Bukan hanya soal ibadah ritual, tetapi juga integritas dan keikhlasan dalam bekerja, belajar, dan mengabdi.
Hadits Innamal A’maalu bin Niyyat memang singkat. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan pesan besar: kualitas hidup seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya amal, melainkan oleh lurusnya niat.
Ramadhan memang bulan memperbanyak amal. Tapi mungkin, seperti yang tersirat dalam kultum siang itu, Ramadhan juga bulan untuk merapihkan niat. Karena pada akhirnya, di bulan suci Ramadhan ini, pertanyaan terpenting bukan lagi “sudah berapa banyak yang kita lakukan?” melainkan “sudahkah niat kita diluruskan?”
(Kontributor: Rizki Mulyarahman; Dokumentasi: Rizki Mulyarahman; Penyunting: Agus Rifai/Rizki Mulyarahman)
(Dokumentasi, 19 Februari 2026)
Untuk update berita dan informasi lebih lanjut, bisa di akses:











