FRESH UIN Jakarta Luncurkan Klinik Riset, Siapkan Generasi Peneliti Muda Berkualitas
Gedung Perpustakaan UIN Jakarta, Berita Terkini – Di tengah kekhawatiran banyak kalangan tentang menurunnya budaya membaca dan melemahnya literasi akademik mahasiswa, justru ada sebuah percakapan serius tentang masa depan riset di kalangan mahasiswa.
Kamis (12/03) siang itu, suasana di Gedung Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tampak terasa berbeda. Pasalnya, ada sekolompok mahasiswa yang tergabung dalam komunitas akademik Fatahillah Researchers for Science and Humanity (FRESH) UIN Jakarta meluncurkan sebuah program yang mereka sebut ‘Klinik Riset’ —sebuah ruang belajar yang dirancang bukan sekadar untuk berdiskusi, tetapi untuk membentuk cara berpikir ilmiah mahasiswa secara sistematis.
Peluncuran program ini dihadiri oleh Flori Ratna Sari —Dewan Pembina FRESH, serta Agus Rifai —Kepala Perpustakaan UIN Jakarta, bersama para pustakawan dan mahasiswa yang selama ini aktif menghidupkan diskursus akademik di kampus.
Diketahui, peluncuran program ‘Klinik Riset’ ini bagian dari rangkaian Seminar Literasi yang bertajuk “Transformasi Literasi Riset: Membangun Fondasi Akademik Unggul dan Inovatif”, pada Kamis (12/03).
baca juga >> Krisis Literasi Akademik? Seminar Ini Dorong Mahasiswa Perkuat Fondasi Riset Secara Kritis dan Inovatif
Muncul dari Kebingungan, Harus Memulai Dari Mana?
Dalam satu dekade terakhir, lanskap pengetahuan global di perguruan tinggi berubah secara drastis. Internet membuka akses yang hampir tak terbatas terhadap buku, jurnal, dan data penelitian. Mahasiswa hari ini memiliki akses informasi yang jauh lebih luas dibanding generasi sebelumnya.
Namun di balik kemudahan itu, membawa paradoks baru. Banyak mahasiswa mampu menemukan ribuan referensi dalam hitungan detik, tetapi tidak semua mampu membaca secara kritis, memahami metodologi penelitian, atau merumuskan argumen ilmiah yang kuat.
Dalam pemaparannya, Naaila —Bidang Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia komunitas FRESH —mengatakan bahwa literasi riset tidak cukup disampaikan melalui seminar sehari. Menurutnya, banyak kegiatan akademik di kampus masih berfokus pada seminar atau diskusi ilmiah yang bersifat satu kali pertemuan.
“Banyak mahasiswa sebenarnya memiliki minat melakukan penelitian, tetapi mereka sering bingung menentukan topik, kesulitan memahami metodologi, atau berhenti di tengah jalan karena tidak memiliki pendampingan akademik,” kata Naaila.
Padahal, menurut Naaila, kemampuan penelitian tidak bisa dibangun secara instan. “Literasi riset harus dilatih secara berkelanjutan. Karena itu Klinik Riset ini kami rancang sebagai ruang belajar bersama bagi mahasiswa yang ingin memperkuat kemampuan penelitian mereka secara bertahap,” ujar Naaila. Akibatnya, penelitian sering kali berubah menjadi sekadar proses mengumpulkan kutipan dari berbagai sumber —bukan proses intelektual untuk memahami persoalan secara kritis dan mendalam.
Di sinilah ‘Klinik Riset’ mencoba mengambil peran. Program ini dirancang sebagai ruang pendampingan jangka panjang bagi mahasiswa yang ingin membangun kemampuan riset secara bertahap —dari tahap paling dasar hingga mampu mempublikasikan karya ilmiah.
Tiga Tahap Menjadi Peneliti
Program Klinik Riset, menurut Naaila, dirancang dalam tiga tahapan yang menggambarkan perjalanan intelektual mahasiswa sebagai peneliti.
Tahap Basic: Memahami Fondasi Riset. Pada tahap ini, kata Naaila, mahasiswa diperkenalkan pada dasar-dasar literasi akademik. Mahasiswa diperkenalkan pada cara membaca sumber ilmiah secara kritis, memahami struktur karya ilmiah, serta merumuskan pertanyaan penelitian yang relevan.
Peserta juga dilatih menelusuri referensi melalui berbagai database akademik serta memahami perbedaan antara sumber ilmiah dan informasi popular di internet. Menurut Naaila, tahap ini penting untuk mengubah cara pandang mahasiswa tentang penelitian. “Penelitian bukan sekadar mengumpulkan kutipan dari berbagai sumber. Penelitian adalah proses memahami masalah dan mencari jawaban secara sistematis,” katanya.
Tahap Intermediate: Menguji Gagasan Penelitian. Setelah memahami dasar-dasar penelitian, kata Naaila, peserta memasuki tahap Intermediate. Di fase ini, proses pembelajaran menjadi lebih praktis dan intens. Mahasiswa mulai menyusun proposal penelitian, menentukan metode yang tepat, hingga mempelajari teknik pengumpulan serta analisis data.
Diskusi tidak lagi bersifat teoritis. Setiap peserta diminta mempresentasikan ide penelitiannya, lalu mendapatkan umpan balik dari mentor maupun sesama peserta. Menurut Naaila, tahap ini menjadi ruang latihan yang penting bagi mahasiswa untuk menguji gagasan mereka sebelum benar-benar terjun melakukan penelitian lapangan.
Advanced: Dari Riset ke Publikasi. Tahap terakhir adalah Advanced, yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang telah memiliki pengalaman penelitian dan ingin meningkatkan kualitas karyanya. Pada fase ini, fokus diarahkan pada penguatan analisis data, teknik penulisan artikel ilmiah, serta strategi publikasi di jurnal akademik.
Bagi komunitas FRESH, tahap ini menjadi langkah penting untuk membangun ekosistem peneliti muda di kampus. Mahasiswa tidak lagi sekadar belajar melakukan penelitian, tetapi mulai didorong untuk menghasilkan karya ilmiah yang dapat berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan.
“Mahasiswa Harus Dilatih Menjadi Peneliti”
Kepala Perpustakaan UIN Jakarta, Agus Rifai, melihat inisiatif mahasiswa ini sebagai langkah penting dalam membangun kembali tradisi intelektual kampus. Menurutnya, kemampuan meneliti tidak lahir otomatis dari proses di ruang perkuliahan semata. Mahasiswa harus dilatih. “Riset bukan hanya soal menyelesaikan skripsi. Riset adalah cara berpikir. Jika mahasiswa tidak dilatih membaca secara kritis, memahami metodologi, dan menulis secara akademik, maka tradisi intelektual di kampus akan melemah,” ujar Agus Rifai.
Lebih lanjut, ia menilai kehadiran ‘Klinik Riset’ menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk belajar secara kolektif. Inisiatif seperti yang dilakukan komunitas akademik FRESH, kata Agus, menunjukkan bahwa gerakan literasi akademik tidak selalu harus datang dari kebijakan struktural kampus. Sering kali, justru di mulai dari kegelisahan dari komunitas mahasiswa yang memiliki kegelisahan intelektual.
Pada akhirnya, di era ketika semua informasi dapat ditemukan melalui internet, tantangan pendidikan tinggi justru semakin kompleks. Mahasiswa hari ini, dapat dengan mudah menemukan ribuan artikel hanya dalam hitungan detik. Namun, tidak semuanya mampu membaca dengan menggunakannya secara kritis.
Sebuah program ‘Klinik Riset’ lahir dari kesadaran atas perubahan zaman tersebut. Program ini bukan hanya tentang penelitian, melainkan tentang bagaimana membangun mentalitas ilmiah di kalangan mahasiswa.
Mentalitas untuk bertanya. Mentalitas untuk meragukan. Mentalitas untuk mencari jawaban melalui riset.
Sebuah langkah kecil dari komunitas FRESH —menghidupkan kembali tradisi riset di kampus, bukan tidak mungkin suatu hari nanti lahir generasi peneliti muda berkualitas dari kampus UIN Jakarta dan memberikan kontribusi bagi dunia akademik.
Dan semuanya dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana: bagaimana caranya menjadi peneliti yang baik?
(Kontributor: Rizki Mulyarahman; Dokumentasi: Rizki Mulyarahman; Penyunting: Agus Rifai/Rizki Mulyarahman)
(Dokumentasi, 12 Maret 2026)
Untuk update berita dan informasi lebih lanjut, bisa di akses:




















