Krisis Literasi Akademik? Seminar Ini Dorong Mahasiswa Perkuat Fondasi Riset Secara Kritis dan Inovatif
Gedung Perpustakaan UIN Jakarta, Berita Terkini – Tidak pernah ada dalam sejarah manusia, semua informasi tersedia hanya dalam hitungan detik. Mahasiswa hari ini hidup dalam dunia yang dipenuhi mesin pencari, jurnal digital, dan kecerdasan buatan. Sebuah paradoks baru muncul, dimana fondasi riset menjadi pekerjaan besar bagi perguruan tinggi.
Kekhawatiran itu menjadi salah satu latar belakang digelarnya Seminar Literasi dan Sosialisasi Klinik Riset yang bertajuk “Transformasi Literasi Riset: Membangun Fondasi Akademik Unggul dan Inovastif” yang diselenggarakan komunitas akademik Fatahillah Researchers for Science and Humanity (FRESH) UIN Jakarta bersama Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (12/3/2026) kemarin, di lantai 7 gedung perpustakaan.
Kegiatan ini bukan sekadar forum diskusi akademik biasa, melainkan ruang refleksi intelektual tentang masa depan riset mahasiswa di tengah perubahan lanskap pengetahuan global.
Hadir dalam kegiatan ini Prof. dr. Flori Ratna Sari, Ph.D., selaku Dewan Pembina FRESH UIN Jakarta, serta Agus Rifai, Ph.D., Kepala Perpustakaan UIN Jakarta, bersama para pustakawan dan anggota komunitas FRESH yang selama ini aktif menggerakkan budaya riset di kalangan mahasiswa.
Menghidupkan Kembali Tradisi Riset
Seminar ini juga menjadi bagian dari upaya membangun kembali tradisi intelektual mahasiswa yang dalam beberapa tahun terakhir dinilai mengalami tantangan akibat perubahan budaya belajar di era digital. Di tengah perubahan cara belajar itulah, sebuah pertanyaan besar mulai muncul: Apakah kemudahan akses informasi benar-benar melahirkan generasi peneliti yang lebih kuat?
Sebagian mahasiswa mampu menemukan informasi dengan cepat, tetapi belum tentu mampu mengolahnya menjadi argumen ilmiah yang kuat. Di sinilah literasi riset menjadi kunci.
Dalam sambutannya, Flori Ratna Sari menegaskan bahwa kemampuan penelitian bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan fondasi intelektual bagi masa depan akademik mahasiswa.
“Mahasiswa hari ini hidup dalam era informasi tanpa batas. Tantangannya bukan lagi menemukan data, tetapi memahami, mengkritisi, dan mengolahnya menjadi pengetahuan baru,” ujar Flori.
Menurutnya, transformasi literasi riset menjadi agenda penting bagi perguruan tinggi agar mahasiswa tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi mampu tampil sebagai produsen pengetahuan.
Selain itu, ia menambahkan bahwa komunitas riset mahasiswa seperti FRESH memiliki peran strategis dalam menumbuhkan tradisi ilmiah sejak dini. “Jika budaya riset tumbuh sejak mahasiswa, maka kampus akan melahirkan generasi akademik yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kritis, kreatif, dan inovatif,” katanya.
Perpustakaan yang Berubah Wajah
Perubahan zaman turut mengubah wajah perpustakaan. Jika dahulu perpustakaan identik dengan rak-rak buku yang sunyi, kini berkembang menjadi laboratorium pengetahuan yang jauh lebih dinamis.
Dalam kesempatan yang sama, Agus Rifai, Kepala Perpustakaan UIN Jakarta, menegaskan bahwa perpustakaan hari ini menjadi ruang hidup bagi tradisi intelektual. “Mesin pencari seperti Google, bisa membantu menemukan jutaan informasi. Tetapi riset ilmiah membutuhkan metodologi, analisis, dan integritas akademik,” kata Agus.
Lebih lanjut menurut Agus, perpustakaan hari ini tidak hanya menyediakan buku, melainkan berbagai database jurnal ilmiah yang dapat diakses mahasiswa untuk memperkuat penelitian mereka.
Perpustakaan, dengan demikian, bukan lagi sekadar tempat membaca. Tetapi berubah wajah menjadi laboratorium pengetahuan, dimana tempat mahasiswa belajar dan memahami bagaimana pengetahuan dibangun.
Kampus dan Masa Depan Generasi Peneliti
Salah satu pesan kuat yang muncul dari seminar tersebut adalah perubahan cara pandang terhadap penulisan skripsi. Di ruang seminar lantai tujuh gedung perpustakaan, diskusi berlangsung dinamis. Para peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga berbagi pengalaman tentang tantangan riset yang mereka hadapi.
Sebagian mahasiswa, skripsi sering dianggap sebagai tugas akhir yang harus diselesaikan demi kelulusan. Melalui kegiatan literasi riset seperti ini, mahasiswa diajak memahami berbagai aspek penting penelitian, mulai dari pencarian referensi ilmiah, penggunaan database akademik, hingga etika penelitian. Bagi komunitas akademik FRESH UIN Jakarta, gerakan ini bukan hanya tentang meningkatkan kualitas skripsi mahasiswa, melainkan tentang bagaimana membangun generasi peneliti masa depan.
Namun pembicara dalam seminar ini, Agus Rifai, menekankan bahwa penelitian seharusnya tidak berhenti pada kewajiban akademik. “Riset harus menjadi awal perjalanan intelektual mahasiswa,” tegas Agus. Lebih lanjut, menurut Agus, ketika mahasiswa terbiasa melakukan penelitian yang serius, mereka tidak hanya menghasilkan skripsi yang baik, melainkan membangun kemampuan berpikir kritis yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan modern. Kemampuan itu kelak akan melahirkan inovasi.
Menjelang akhir seminar, suasana tidak langsung beranjak bubar. Setelah diskusi panjang tentang ‘literasi riset dan masa depan tradisi akademik mahasiswa’, panitia justru membuka satu sesi yang bersifat lebih praktis —sebuah langkah konkret agar diskursus literasi riset tidak berhenti sebagai wacana.
Di sesi penutup itu, Naaila, Bidang Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, komunitas FRESH, memperkenalkan program yang mereka sebut sebagai ‘Kllinik Riset’.
Bagi Naaila, literasi riset tidak cukup diajarkan melalui seminar atau diskusi ilmiah dalam satu hari, melainkan harus dilatih secara berkelanjutan melalui pendampingan yang sistematis. “Kinik Riset ini kami rancang sebagai ruang belajar bersama bagi mahasiswa yang ingin memperkuat kemampuan penelitian mereka secara bertahap,” ujar Naila di hadapan peserta seminar.
Menurutnya, banyak mahasiswa sebenarnya memiliki minat melakukan penelitian, tetapi sering kali tidak tahu harus memulai dari mana. Sebagian kebingungan memilih topik, sebagian lagi kesulitan memahami metodologi penelitian, sementara yang lain berhenti di tengah jalan karena tidak memiliki pendampingan akademik yang cukup.
Klinik Riset, kata Naaila, hadir untuk menjawab persoalan tersebut. Lebih lanjut, Naaila menjelaskan Klinik Riset terbagi dalam tiga tahapan —perjalanan intelektual seorang mahasiswa dari tahap awal hingga tingkat penelitian yang lebih matang.
Pertama, Tahap Basic: Menemukan Cara Berpikir Ilmiah. Tahap basic ini, menurut Naaila, peserta diperkenalkan pada fondasi literasi akademik: bagaimana membaca sumber ilmiah dengan kritis, memahami struktur karya ilmiah, serta merumuskan pertanyaan yang relevan. Di sinilah mereka belajar bahwa penelitian bukan sekadar mengumpulkan kutipan dari berbagai sumber, tetapi proses memahami masalah, merumuskan pertanyaan, dan mencari jawaban secara sistematis. Selain itu, peserta juga dilatih menelusuri referensi dari database akademik, memahami perbedaan antara sumber ilmiah dan informasi populer, serta mengenal dasar-dasar etika penelitian.
Kedua, Tahap Intermediate: Mengasah Kemampuan Metodologis dan Analitis. Menurut Naaila, setetalh memahami dasar-dasar literasi riset, peserta akan memasuki tahap Intermediate. Di tahap ini, fokus pembelajaran bergeser dari sekadar memahami konsep penelitian menuju praktik penelitian yang lebih konkret. Diskusi dalam tahap ini akan menjadi lebih intens. Mahasiswa mulai dilatih menyusun proposal penelitian, menentukan metode yang tepat, serta memahami teknik pengumpulan dan analisis data. Selain itu, para peserta mempresentasikan ide penelitian mereka dan mendapatkan umpan balik dari mentor serta sesama peserta.
Tahap terakhir adalah Advanced, yang ditujukan bagi mahasiswa yang telah memiliki pengalaman penelitian dan ingin mengembangkan karyanya ke tingkat yang lebih tinggi, kata Naaila. Pada tahap ini, fokus pembelajaran diarahkan pada penguatan kualitas penelitian: mulai dari analisis data yang lebih mendalam, penulisan artikel ilmiah, hingga strategi publikasi di jurnal akademik.
Bagi Komunitas Akademik FRESH UIN Jakarta, tahap advanced merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem peneliti muda di lingkungan kampus UIN Jakarta. Mahasiswa tidak lagi sekadar belajar melakukan penelitian, melainkan didorong untuk berkontribusi dalam memproduksi pengetahuan yang lebih luas.
Karena pada akhirnya, masa depan pengetahuan tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau seberapa luas akses informasi yang diperoleh, melainkan sejauh mana generasi muda mampu belajar meneliti, berpikir kritis, dan berani melahirkan gagasan baru.
(Kontributor: Rizki Mulyarahman; Dokumentasi: Rizki Mulyarahman; Penyunting: Agus Rifai/Rizki Mulyarahman)
(Dokumentasi, 12 Maret 2026)
Untuk update berita dan informasi lebih lanjut, bisa di akses:




















