AI Makin Canggih, Perpustakaan UIN Jakarta Tak Bisa Lagi Sekadar Gudang Buku
Gedung Perpustakaan UIN Jakarta, Berita Terkini — Di era ketika satu pertanyaan bisa dijawab dalam hitungan detik, layar gawai menjadi perpustakaan pribadi bagi siapa saja. Ribuan artikel, jurnal ilmiah, hingga opini berseliweran tanpa henti. Cukup ketik kata kunci, lalu enter. Namun, di balik kemudahan itu, ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kita benar-benar membaca?
Literasi hari ini bukan lagi sekadar kemampuan membaca. Literasi berhadapan langsung dengan konten sintetis berbasis Artificial Intelligence (AI), ringkasan otomatis, hingga algoritma media sosial yang diam-diam membentuk opini publik. Informasi melimpah, tetapi belum tentu diiringi kedalaman berpikir.
Di tengah situasi itu, perpustakaan tidak bisa lagi berdiri sebagai gudang buku.
Berdasarkan laporan Pulse of the Library 2025 menunjukkan sekitar 67 persen perpustakaan di seluruh dunia telah mengeksplorasi atau menerapkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam layanannya —naik dari 63 persen pada tahun sebelumnya. Perpustakaan yang menyertakan AI literacy dalam pelatihan bahkan dinilai lebih siap menghadapi transformasi digital.
Kecerdasan buatan (AI) generatif seperti ChatGPT, Gemini, dan berbagai platform sejenis telah mengubah cara mahasiswa belajar, menulis, bahkan berpikir. Perubahan ini bukan sekadar tren teknologi, melainkan pergeseran epistemologis —pergeseran cara manusia memperoleh, mengolah, dan memaknai pengetahuan.
Pertanyaannya: di mana posisi perpustakaan dalam pusaran ini?
Jika perpustakaan hanya sibuk pada statistik kunjungan dan jumlah koleksi, ia akan tertinggal. Tetapi jika berani masuk ke ruang debat intelektual —mengajarkan etika penggunaan AI, membangun budaya baca mendalam, serta melatih literasi kritis— perpustakaan kampus justru menjadi aktor kunci masa depan pendidikan tinggi.
Kepala Perpustakaan UIN Jakarta, Agus Rifai, menegaskan bahwa transformasi digital tidak boleh menghilangkan ruh intelektual perpustakaan. “AI adalah alat, bukan pengganti nalar. Sejatinya Perpustakaan menjadi ruang yang membimbing mahasiswa agar mampu menggunakan teknologi secara kritis dan etis,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan literasi hari ini bukan sekadar rendahnya minat baca, tetapi menurunnya kebiasaan membaca mendalam. Mahasiswa semakin terbiasa mengakses ringkasan, bukan teks utuh. Cepat memperoleh jawaban, tetapi kurang akrab dengan proses berpikir panjang. “Jika perpustakaan tidak bergerak, ia berisiko kehilangan relevansi. Tetapi jika ia (red: perpustakaan) berani reposisi, justru di sinilah momentum sejarah tercipta,” tegas Agus Rifai.
Reposisi perpustakaan bukan soal mempertahankan romantisme buku kertas. Ini bukan pertarungan antara cetak dan digital. Ini soal mempertahankan integritas akademik. “Reposisi bukan sekadar renovasi gedung atau digitalisasi koleksi. Reposisi berarti menjadikan perpustakaan sebagai penjaga integritas akademik, pengawal etika penggunaan AI, kurator pengetahuan, dan ruang debat ilmiah lintas disiplin,” ujar Agus Rifai.
Arena Peradaban Intelektual Ditentukan Hari Ini
Sejarah mencatat, peradaban besar lahir dari ruang-ruang ilmu. Di sanalah gagasan diuji, dibantah, diperdalam, dan diperhalus. Perpustakaan bukan sekadar penyimpan pengetahuan, melainkan penggerak dialektika.
Kini, ketika AI mampu menulis esai, merangkum teori, bahkan mensimulasikan argumen akademik, manusia justru dituntut untuk lebih kritis. Tanpa pendampingan literasi, mahasiswa bisa terjebak pada kemudahan instan yang mematikan proses berpikir.
Karena itu, pada 2026 ini, Perpustakaan UIN Jakarta tengah menggencarkan kelas literasi —bukan hanya literasi baca tulis, tetapi literasi digital dan literasi AI. Upaya ini diarahkan untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan memverifikasi sumber, memahami bias algoritma, serta menggunakan AI secara etis dan bertanggung jawab.
baca juga:
>> Era AI Generatif Ubah Dunia Kampus, Sistem Deteksi Akademik Jadi Kebutuhan Mendesak
>> Perkuat Integritas Akademik, UIN Jakarta Manfaatkan Compilatio untuk Cek Konten Ilmiah
Pustakawan hari ini, harus naik kelas menjadi navigator literasi digital dan etika akademik. Perpustakaan mempunyai mandat moral untuk memastikan dengan kehadiran teknologi, bukan meruntuhkan, melainkan menjaga integritas akademik.
Langkah tersebut bukan defensif, apalagi pencitraan belaka. Jika perpustakaan mampu berdiri sebagai arena peradaban intelektual, maka transformasi digital justru menjadi penguat nalar. Dan di sanalah perpustakaan seharusnya berdiri —bukan sebagai gudang buku, melainkan sebagai benteng terakhir integritas intelektual.
(Kontributor: Rizki Mulyarahman; Desain & Dokumentasi: Rizki Mulyarahman; Penyunting: Agus Rifai/Rizki Mulyarahman)
Untuk update berita dan informasi lebih lanjut, bisa di akses:





