Spirit Isra’ Mi’raj Jadi Pemantik Episentrum Budaya Literasi dan Nilai Spiritualitas
Momentum Isra’ Mi’raj — Cahaya langit masih berbalut mendung ringan, ketika atmosfer bergerak pelan, seolah menyambut satu peringatan penting yang telah hidup dalam ingatan umat Islam selama berabad-abad: Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sebuah peristiwa kosmik —dan bagi umat Islam, momentum reflektif untuk merenungkan kembali hubungan antara manusia, wahyu, dan pengetahuan.
Peristiwa yang selalu mengundang refleksi, tak hanya dari sisi keagamaan, tapi juga dari sisi kemanusiaan —mencari makna, memperdalam pengetahuan, dan menyelaraskan hidup dengan cahaya spiritual.
Namun, di tengah rutinitas akademik dan riuh teknologi digital yang berkembang pesat, seberapa jauh spirit Isra’ Mi’raj masih menyala?
Pertanyaan ini mengemuka ketika Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menjadikan momen suci ini sebagai batu loncatan memperkuat budaya literasi dan nilai spiritual di lingkungan kampus UIN Jakarta.
Menafsirkan Mi’raj Melalui Kaca Mata Literasi
Sedikit kembali mengingat memori kolektif umat Islam mengenai perjalanan malam. Kepala Perpustakaan UIN Jakarta, Agus Rifai, mengungkapkan bahwa “Isra’ Mi’raj merupakan serangkaian kisah perjalanan spiritual dan intelektual. Selain menunjukkan kedekatan Nabi dengan Sang Pencipta, peristiwa ini memberi pesan bahwa ilmu, ibadah, dan kesadaran moral harus berjalan bersama,” ungkap Agus Rifai dalam keterangannya, Jum’at (16/01).
Sejarah Islam sendiri memotret jelas: Periode awal Madinah menampilkan masjid sebagai pusat peradaban, dan kertas yang dibawa dari negeri-negeri asing melahirkan tradisi literasi yang kuat, mulai dari Baitul Hikmah di Baghdad, hingga madrasah-madrasah yang melahirkan ulama dunia.
Ada satu hal yang lebih menarik perhatian: “Isra’ Mi’raj bukan hanya petualangan Nabi ke langit tertinggi, Itu perjalanan kesadaran. Dari bumi menuju langit, dari kenyataan menuju penyingkapan makna,” ujar Agus. Lebih lanjut, Agus menyampaikan bagaimana perjalanan suci Nabi Muhammad SAW. diterjemahkan menjadi dorongan untuk memperkuat kecintaan pada ilmu. Agus menjelaskan bahwa setelah kembali dari perjalanan tersebut, Rasulullah SAW tidak hanya membawa perintah shalat, tetapi membangun masyarakat yang mencintai ilmu. Di masa itu, masjid menjadi tempat membaca, mengajar, menulis, dan berrumusan ide.
Perpustakaan: Ruang Mi’raj Masa Kini
Jika masjid dahulu menjadi pusat peradaban ilmu pengetahuan, maka perpustakaan hari ini menjadi “ruang mi’raj” bagi masyakarat kampus. Tempat yang memfasilitasi pendakian dari ketidaktahuan menuju pengetahuan baru. Ruang yang memungkinkan masyakarat kampus melakukan mi’raj dengan cara mereka sendiri: pendakian dari kebodohan menuju pemahaman, dari prasangka menuju pencerahan.
Agus kembali menegaskan, “Perpustakaan harus menjadi episentrum bukan hanya informasi, tetapi transformasi. Masyarakat kampus harus merasakan bahwa menekuni literatur dan menggali ilmu adalah aktivitas spiritual, yang tak hanya mencari referensi, akan tetapi menemukan nilai, arah, dan kesadaran” jelas Agus.
Pernyataan itu terasa semakin relevan ketika perpustakaan kini tidak lagi hanya menyuguhkan rak fisik, tetapi juga membuka pintu ke ribuan jurnal digital, buku elektronik, dan akses sumber ilmiah global. Masyakarat kampus hanya butuh satu klik untuk menjelajahi dunia gagasan dari para pemikir Islam maupun ilmuwan modern.
Pendakian Ilmu sebagai Mi’raj
Jika Nabi Muhammad SAW., menuju batas teringgi langit dalam suatu malam, perjalanan intelektual masyakarat kampus tentu jauh lebih panjang. Akan tetapi, substansinya tidak jauh berbeda: setiap bacaan, setiap ruang kelas, setiap diskusi adalah langkah kecil menuju kedewasaan moral dan spiritual.
Peringatan Isra’ Mi’raj ini lantas mengingatkan bahwa ilmu sejati selalu mengarahkan manusia:
- bukan hanya menjadi pintar, tetapi bijaksana.
- bukan hanya mengetahui, tetapi memahami.
- bukan hanya membaca, tetapi menghidupkan nilai.
Dan karena itulah, perpustakaan kampus yang mengintegrasikan literasi dan spiritualitas sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kebiasaan membaca—ia sedang menumbuhkan ekosistem manusia berilmu sekaligus beriman.
Mi’raj Akademik dan Masa Depan
Isra’ Mi’raj menghubungkan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa. Tentu, jalan menuju budaya literasi yang matang tidak instan. Ia memerlukan ritme yang sama seperti spiritualitas: sabar, konsisten, dan berniat baik.
Dalam konteks lingkungan kampus, Mi’raj masyarakat kampus hari ini tidak terjadi dalam satu malam. Ia berlangsung dalam perjalanan panjang —dari membaca satu buku hingga ratusan, dari tulisan sederhana sampai karya ilmiah, dari kebingungan menuju kebijaksanaan.
Pada akhirnya, Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa pendakian tertinggi bukan hanya ke atas, tetapi ke dalam diri. Jika perjalanan Nabi Muhammad SAW adalah mi’raj ke langit, maka mi’raj kita hari ini adalah literasi: pendakian menuju ilmu, iman, dan kemanusiaan.
Dan perpustakaan —dengan rak pengetahuan yang tak pernah habis— adalah kendaraan terbaik untuk memulai perjalanan itu. *RMr
Untuk update berita dan informasi lebih lanjut, bisa di akses:





