Puasa: Disiplin Spiritual, dan Energi Intelektual
Puasa: Disiplin Spiritual, dan Energi Intelektual

Apakah puasa benar-benar melemahkan kita, atau justru cara kita memaknainya yang keliru?
Tulisan ini merupakan refleksi dari perjalanan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan yang seharusnya tidak berhenti pada lapar dan dahaga, di mana kerap menjadi pembenaran atas melambatnya produktivitas dan menurunnya standar kerja.

Ramadhan kembali hadir. Bersamanya, umat Islam menjalankan puasa sebagai ibadah yang sarat akan makna spiritual. Puasa kerap dipahami secara sederhana sebagai menahan diri dari makan dan minum.

Tanpa sadar, muncul fenomena yang selalu terulang: puasa direduksi menjadi alasan melemahnya performa. Puasa kerap diasosiakan dengan penurunan produktivitas. Aktivitas melambat, standar kerja dilonggarkan, dan bahkan performa akademik dianggap wajar menurun dengan dalih “sedang berpuasa”.

Isian Berita 2026Ada kalimat yang sering terdengar akrab di ruang-ruang kampus maupun kantor: “Maklum, lagi puasa.”
Maklum jika lambat.
Maklum jika tidak fokus.
Maklum jika produktivitas menurun.

Padahal, dalam tradisi Islam, puasa justru dirancang sebagai latihan penguatan diri —bukan pembenaran atas kemalasan.

Puasa memang menahan lapar dan dahaga. Namun esensinya jauh melampaui urusan biologis. Ia adalah disiplin spiritual: latihan mengendalikan amarah, menundukkan ego, meredam prasangka, dan menahan impuls. Puasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan proses pembentukan karakter.

Ironisnya, justru di bulan Ramadhan, sebagian orang menurunkan standar kerja dan belajar. Di lingkungan pendidikan tinggi misalnya, fenomena ini lebih terasa: tugas kuliah ditunda, riset diperlambat, bahkan diskusi kehilangan daya kritis. Seolah-olah puasa identik dengan penurunan produktivitas.

Cara pandang semacam itu perlu dikoreksi.

Al-Qur’an menegaskan tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan (QS. Al-Baqarah: 183). Ketakwaan bukan sikap pasif atau sekadar ritual tahunan, melainkan kesadaran moral yang aktif dan reflektif. Dalam konteks akademik, ketakwaan menemukan relevansinya dalam integritas ilmiah: kejujuran dalam penelitian, ketekunan membaca, kedisiplinan menulis, keberanian berpikir jernih, dan bahkan tanggung jawab intelektual.

Ramadhan dan Disiplin Intelektual
Kaleidoskop Perpustakaan 2025 (1)Puasa sejatinya melatih pengendalian diri. Dan pengendalian diri adalah fondasi disiplin akademik. Tanpa kendali diri, riset mudah tergelincir pada manipulasi data, plagiarisme, atau sekadar produksi karya yang miskin substansi. Tanpa integritas, ilmu kehilangan marwahnya.

Mahasiswa yang mampu menahan lapar seharian, seharusnya juga mampu menahan distraksi digital. Dosen yang menjaga lisannya dari hal sia-sia, semestinya juga mampu menjaga integritas akademiknya. Jika puasa dijalankan secara utuh, ia tidak melemahkan energi intelektual —ia justru memurnikannya.

Masalahnya bukan pada puasanya. Masalahnya ada pada acara kita memaknainya.

Ramadhan sejak awal, sejatinya adalah bulan literasi. Tradisi tadarus bukan sekadar membaca teks suci Al-Qur’an, tetapi membaca dengan tadabbur —mendalami, merenungkan, dan memaknai ulang. Membaca dengan tadabbur berarti membaca secara mendalam —bukan sekadar mengejar target khatam, melainkan memahami makna.

Jika tadarus dimaknai luas, maka ia mencakup membaca buku, membaca realitas sosial, dan membaca diri sendiri. Di sinilah puasa menjadi energi intelektual: ia memperlambat ritme fisik, tetapi memperdalam ritme batin.

Puasa dan Manajemen Energi
Secara psikologis, puasa menciptakan jeda dari rutinitas konsumtif. Jeda ini bukan kemunduran, melainkan kesempatan untuk mengatur ulang energi. Kita belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan, antara informasi dan kebijaksanaan.

Ada ruang hening yang memungkinkan seseorang menata ulang prioritas hidupnya. Di sinilah puasa menjadi laboratorium batin: kita belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan, antara informasi dan kebijaksanaan. Dalam dunia akademik yang sering terjebak pada produktivitas kuantitatif seperti jumlah artikel, sitasi, dan indeksasi, puasa mengingatkan pentingnya kualitas refleksi.

Ramadhan juga dapat dibaca sebagai momentum manajemen energi. Dalam kondisi fisik yang lebih terkendali, fokus dan kesadaran dapat diarahkan secara lebih selektif. Menahan diri dari konsumsi berlebihan, melatih efisiensi, termasuk efisiensi kognitif. Kita belajar memilih informasi yang esensial, menunda distraksi digital, dan memusatkan perhatian pada hal yang bermakna. Dalam konteks generasi digital, puasa dapat menjadi praktik “digital minimalism”: mengurangi kebisingan, dan memperkuat fokus.

Bagi mahasiswa dan dosen, bulan Ramadhan ini semestinya bukan alasan untuk menurunkan standar, melainkan kesempatan memperdalam kualitas baca, memperhalus argumentasi, dan memperkuat etika diskusi.

Menolak Narasi “Ramadhan = Turun Performa”
Isian Berita - 19 Februari 2026 -  Innamal A’malu bin Niyyat Hadits Singkat Ini Bikin Kita Mikir Ulang!Narasi “Ramadhan identik dengan penurunan performa” harus dihentikan. Jika banyak sebagian orang menganggap puasa sebagai alasan untuk berhenti berkarya, karena ingin fokus ibadah.

Puasa bukan alasan untuk menurunkan standar. Puasa adalah latihan untuk menaikkan kualitas. Jika bekerja dan belajar diniatkan sebagai ibadah, maka aktivitas akademik di bulan Ramadhan bukan beban tambahan, tetapi bagian dari spiritualitas itu sendiri.

Spiritualitas tidak kontradiktif dengan produktivitas. Justru sebaliknya, spiritualitas yang matang memperkuat kualitas kerja.

Indonesia yang tengah berupaya meningkatkan daya saing pendidikan tinggi membutuhkan budaya akademik yang kokoh —bukan musiman, apalagi kompromistis. Jika Ramadhan dimaknai secara substantif, ia akan menjadi laboratorium etika bagi sivitas akademika.

Pada akhirnya, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan integritas. Ramadhan seharusnya tidak melemahkan produktivitas atau bahkan kemunduran intelektual, melainkan dapat menjadi energi moral untuk memperbaiki makna dari spiritualitas.

Dalam ruang hening puasa, ilmu tidak berhenti —ia justru menemukan arah.
—Agus Rifai


Untuk update berita dan informasi lebih lanjut, bisa di akses:

website_ https___perpus.uinjkt.ac.idWA_ 0823.2122.1957WA Channel Perpustakaan UIN Jakartaemail_ perpustakaan@apps.uinjkt.ac.idIG_ @perpusuinjkt