Nyepi 1948 Saka, Perpustakaan UIN Jakarta Kirim Pesan: Toleransi dan Harmoni Harus Dirawat
Nyepi 1948 Saka, Perpustakaan UIN Jakarta Kirim Pesan: Toleransi dan Harmoni Harus Dirawat

Gedung Perpustakaan UIN Jakarta, Berita Terkini — Ada satu hari dalam kalender yang justru mengajak manusia untuk berhenti sejenak. Tidak berisik, tidak ada hiruk-pikuk. Hari itu adalah Hari Raya Nyepi, momentum sakral yang diperingati umat Hindu sebagai penanda Tahun Baru Saka.

Bagi umat Hindu, Nyepi bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender Saka, melainkan sebuah jeda spiritual yang mengajak manusia menahan diri dari aktivitas duniawi, menutup pintu keramaian, dan kembali mendengarkan suara batin.

Isian Berita 19 Maret 2026 - Hari Raya NyepiMemasuki Tahun Baru Saka 1948, Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menghadirkan pesan sederhana namun sarat makna melalui sebuah poster ucapan yang dirilis di kanal resminya https://perpus.uinjkt.ac.id. Visualisasi itu memuat kalimat pendek yang kuat:
“Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 – Salam Toleransi dan Harmoni.”

Pesan yang mencerminkan komitmen terhadap nilai keberagaman dan kehidupan beragama yang saling menghormati. Dalam poster tersebut juga menampilkan ilustrasi patung klasik dengan nuansa warna hangat dan tenang, menghadirkan kesan kontemplatif yang kuat. Bukan sekadar ucapan seremonial, pesan tersebut juga mencerminkan sikap menghargai keberagaman.

Hari Raya Nyepi dikenal sebagai hari suci yang dijalani dalam keheningan total. Umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian, empat pantangan utama, yakni tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian, serta tidak menikmati hiburan. Tradisi ini dimaknai sebagai waktu untuk menata diri, melakukan introspeksi, dan memulai tahun baru dengan kesadaran spiritual yang lebih dalam.

Di Bali, tradisi ini bahkan membuat seluruh pulau berhenti total selama satu hari. Bandara tutup, jalanan kosong, dan lampu-lampu kota dipadamkan. Dunia seolah berhenti berputar.

Keheningan itu, justru memiliki makna simbolik yang kuat. Kepala Perpustakaan UIN Jakarta, Agus Rifai, menilai bahwa pesan Nyepi mengandung nilai reflektif yang sangat relevan. “Nyepi mengajarkan kita pentingnya berhenti sejenak untuk merenung. Dalam konteks dunia akademik, refleksi merupakan bagian penting dari proses berpikir. Keheningan sering kali justru melahirkan pemikiran yang paling jernih,” ujar Agus Rifai.

Pada akhirnya, pesan yang disampaikan Perpustakaan UIN Jakarta ini juga mencerminkan wajah Indonesia sebagai bangsa yang berdiri di atas keberagaman. Dalam konteks itu, Nyepi menjadi pengingat bahwa kedamaian lahir dari keheningan, dan harmoni tumbuh dari sikap saling menghormati.
(Kontributor: Rizki Mulyarahman; Dokumentasi: Rizki Mulyarahman; Penyunting: Agus Rifai/Rizki Mulyarahman)


Untuk update berita dan informasi lebih lanjut, bisa di akses:

website_ https___perpus.uinjkt.ac.idWA_ 0823.2122.1957WA Channel Perpustakaan UIN Jakartaemail_ perpustakaan@apps.uinjkt.ac.idIG_ @perpusuinjkt