Meeting Point: Upaya Merawat Ingatan Sejarah dan Tradisi Intelektual Kampus UIN Jakarta
Meeting Point: Upaya Merawat Ingatan Sejarah dan Tradisi Intelektual Kampus UIN Jakarta

Loby Rektorat UIN Jakarta, Berita Terkini — Di tengah dunia kampus yang semakin digital, dan terus berupaya melakukan transformasi secara masif dalam menemukan identitas terbaik institusinya, kerap membuat ingatan kolektif mudah terhapus. Sebuah pertanyaan mendasar muncul, Siapa yang akan merawat sejarah peradaban intelektual universitas?

Pertanyaan itu terasa menggema di lobi rektorat Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (11/03) kemarin. Ruang itu yang biasanya menjadi tempat lalu-lalang administrasi kampus, siang itu mendadak menjadi arena diskusi percakapan sejarah, sebagai upaya pelestarian memori akademik kampus.

Di hadapan rektor dan para pimpinan universitas, Kepala Perpustakaan UIN Jakarta, Agus Rifai, yang juga Ketua Tim GLAM (Galleries, Libraries, Archives, and Museums) UIN Jakarta, mempresentasikan konsep besar gagasan Museum UIN Jakarta sebagai ruang rekonsiliasi sejarah dan peradaban intelektual kampus.

Menurutnya, museum kampus bukan sekadar ruang pajangan benda sejarah. “Museum adalah ruang narasi. Di sana sejarah intelektual kampus tidak hanya di simpan, tetapi juga diceritakan kembali kepada generasi berikutnya,” ujar Agus Rifai, dengan penuh semangat.

Museum Kampus sebagai Arena Rekonsiliasi Sejarah
Gagasan Museum UIN Jakarta lahir dari kesadaran bahwa perjalanan intelektual sebuah universitas sering kali tersimpan dalam fragmen-fragmen terpisah, bahkan hanya menjadi koleksi pribadi hingga cerita lisan yang hanya diketahui oleh generasi lama kampus yang mengalaminya.

Isian Berita - 11 Maret 2026 - Meeting Point Upaya Merawat Ingatan Sejarah dan Tradisi Intelektual Kampus UIN JakartaDalam pemaparannya, Agus Rifai menekankan bahwa gagasan museum kampus bukan sekadar proyek fisik atau ruang pamer. Lebih dari itu, museum adalah ruang rekonsiliasi sejarah intelektual. Tempat di mana berbagai fragmen-fragmen terpisah dari memori kampus, hingga kisah para tokoh dipertemukan kembali dalam satu narasi besar. Mulai dari arsip akademik, dokumentasi sejarah, hingga perjalanan pemikiran yang pernah berkembang di kampus.

Namun ironisnya, banyak dari sejarah itu tidak pernah benar-benar hidup di ruang publik kampus UIN Jakarta. Konsep Museum yang dipresentasikan dalam meeting point tersebut dirancang untuk menghadirkan pendekatan yang lebih modern dan naratif.

"Secara Umum, konsep Museum Kampus akan terbagi kepada 3 (tiga) zona, yang akan menceritakan sejarah panjang kisah perjalanan UIN Jakarta hingga hari ini," ungkap Agus. Alih-alih tidak hanya menampilkan sejarah, museum ini diharapkan mampu menghadirkan pengalaman intelektual yang hidup —menggabungkan arsip, koleksi, dokumentasi sejarah, hingga teknologi digital untuk menyajikan perjalanan kampus secara utuh.

Dengan pendekatan tersebut, museum kampus tidak hanya menjadi tempat mengenang masa lalu, tetapi juga ruang dialog antara sejarah dan masa depan.

Kolaborasi Desain untuk Narasi Sejarah
Untuk menguatkan gagasan tersebut, konsep desain museum turut dipresentasikan oleh konsultan desain dari Vies Idea, yang diwakili oleh Vina dan Lena bersama timnya —beberapa museum yang telah mereka garap, diantaranya Museum Perindustrian di Medan, Museum Wiyata Mandala dan Museum Nasional di Jakarta.

Lebih lanjut, dalam pemaparannya, mereka menjelaskan bagaimana ruang museum dirancang sebagai narasi visual perjalanan intelektual kampus, hingga bagaimana museum dapat menerjemahkan sejarah ke dalam pengalaman ruang yang lebih interaktif sehingga sivitas akademika bahkan masyarakat umum dapat merasakan atmosfer sejarah yang disajikan.

Pendekatan ini diharapkan mampu menghadirkan museum sebagai ruang edukasi, refleksi, sekaligus inspirasi bagi sivitas akademika maupun masyarakat umum.

Rektor: Sejarah Kampus Tidak Boleh Hilang dari Ingatan
Gagasan tersebut mendapat perhatian langsung dari Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Asep Saepudin Jahar. Dalam tanggapannya, ia menilai upaya merawat sejarah intelektual kampus merupakan langkah penting bagi perkembangan universitas di masa depan.

Menurutnya, universitas tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan dan publikasi ilmiah, tetapi juga menjaga kesinambungan tradisi intelektual yang telah dibangun selama puluhan tahun yang lalu. “Sebuah universitas besar tidak boleh hilang dari ingatan sejarah. Di situlah identitas akademik kita bangun. Museum kampus dapat menjadi ruang untuk merawat memori itu sekaligus menginspirasi generasi berikutnya,” Ujar Asep.

Ia juga menekankan bahwa sejarah intelektual kampus tidak hanya berisi peristiwa administratif, melainkan perjalanan gagasan dan kontribusi para akademisi yang membentuk wajah keilmuan universitas. “Kita perlu ruang yang mampu merekam perjalanan intelektual tersebut secara utuh. Dengan begitu mahasiswa dan masyakarat umum tidak hanya mengetahui, melainkan memahami tradisi keilmuan dari kampus ini —UIN Jakarta,” tambah Asep.

Menghubungkan Masa Lalu dan Masa Depan Kampus
Bagi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, gagasan museum kampus memiiliki dimensi yang lebih luas. Sebagai perguruan tinggi Islam yang memiliki sejarah panjang dalam pengembangan pemikiran keislaman dan ilmu pengetahuan, perjalanan intelektual kampus ini merupakan bagian dari warisan akademik yang bernilai penting.

Merawat sejarah, berarti juga merawat tradisi intelektual Islam dalam konteks pendidikan tinggi modern. Namun, bagaimana universitas menjaga ingatan intelektualnya?

Sebab pada akhirnya, reputasi universitas tidak hanya di ukur dari capaian akreditasi institusi, gedung bagunan yang modern, atau bahkan jumlah publikasi ilmiah yang dilahirkan, melainkan kemampuan merawat ingatan, menjaga tradisi intelektual, dan meneruskan peradaban pengetahuan ke generasi berikutnya.

Dan, di ruang sederhana itulah —Lobi Rektorat, start awal percakapan tentang masa lalu dan masa depan intelektual UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mulai dirumuskan kembali.

Penasaran akan seperti apa hasilnya —Museum UIN Jakarta? Simak dan pantau terus informasi terbaru dari kami.
(Kontributor: Rizki Mulyarahman; Dokumentasi: Lina Farida; Penyunting: Agus Rifai/Rizki Mulyarahman)


Untuk update berita dan informasi lebih lanjut, bisa di akses:

website_ https___perpus.uinjkt.ac.idWA_ 0823.2122.1957WA Channel Perpustakaan UIN Jakartaemail_ perpustakaan@apps.uinjkt.ac.idIG_ @perpusuinjkt