Library Tour UIN Ponorogo, Kupas Strategi Modernisasi Layanan dan Penguatan Repository Institusi
Gedung Perpustakaan UIN Jakarta, Library Tour — Suasana Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta siang itu sedikit berbeda. Di antara lalu-lalang mahasiswa yang sibuk dengan tumpukan referensi, hadir sekelompok tamu dengan langkah tenang, membawa semangat yang sama: membangun masa depan perpustakaan kampus yang lebih digital, dan terbuka.
Selasa (03/02), Tim Kerja Perpustakaan UIN Ponorogo melakukan ‘Library Tour’ ke UIN Jakarta sebagai bagian dari upaya penguatan modernisasi layanan perpustakaan dan pengelolaan repository institusi. Library Tour ini bukan sekadar agenda formal, tetapi perjalanan tentang bagaimana perpustakaan bertransformasi di era digital untuk menopang ‘Tri Dharma Perguruan Tinggi'.
Rombongan yang terdiri dari Dr. Kardi, M.Hum., Sirojudin Ahmad, S.Kom., Eny Supriati, M.Pd., Dwi Eliana Sari, S.IP., Ali Mustofa, M.E., Karis Wiliyantoro, S.Kom., dan Saiqul Fata. Mereka disambut hangat oleh Kepala Perpustakaan UIN Jakarta, Agus Rifai, Ph.D., bersama Maryulisman, S.IP., dan Mudianah Mahmud, S.IP. Pertemuan berlangsung dalam suasana akrab, seperti pertemuan sesama pegiat literasi, bukan sekadar kunjungan institusional semata.
Di ruang diskusi, percakapan mengalir dari pengalaman ke pengalaman.
Kepala Perpustakaan UIN Ponorogo, Kardi, menyampaikan bahwa kunjungan ini dilandasi kesadaran bahwa perpustakan kini menghadapi babak baru. “Layanan perpustakaan harus beradaptasi dengan ekosistem akademik digital. Pengelolaan repository institusi menjadi kunci dalam meningkatkan akses, visibilitas, dan dampak karya ilmiah sivitas akademika,” ujarnya.
Pernyataan itu menggambarkan perubahan paradigma. Perpustakaan bukan lagi sekadar ruang sunyi penuh dengan rak buku, melainkan pusat data, pusat akses pengetahuan, dan simpul jejaring akademik global.
Sementara itu, Agus Rifai menegaskan pentingnya kolaborasi antarperpustakaan dalam menghadapi perubahan lanskap informasi. “Modernisasi layanan perpustakaan harus berjalan seiring kebutuhan sivitas akademika. Transformasi digital bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga penguatan tata kelola dan kualitas layanan,” katanya.
Diskusi pun berlangsung secara dinamis. Di sela diskusi, terlihat obrolan ringan tentang tantangan akses, dan visibilitas database, terutama akses database yang dilanggan. Dari percakapan sederhana itu, tersirat bahwa transformasi bukan hanya persoalan sistem, tetapi juga perubahan budaya akademik.
Kegiatan Library Tour UIN Ponorogo ini menjadi penanda bahwa perpustakaan perguruan tinggi tengah bergerak menuju model layanan yang lebih adaptif, terbuka, dan berbasis teknologi. Melalui penguatan layanan digital perpustakaan dan pengelolaan repository institusi yang terstruktur, perpustakaan tidak lagi hanya menjadi ruang baca, akan tetapi sebagai ruang ekosistem pengetahuan yang mendukung inovasi dan kolaborasi akademik.
Di tengah percepatan digitalisasi, kunjungan ini menjadi pengingat bahwa masa depan pendidikan tinggi tidak lepas dari kesiapan perpustakaan dalam mengelola pengetahuan secara terbuka, terintegrasi, dan berkelanjutan.
(Kontributor: Rizki Mulyarahman; Dokumentasi: Tim Perpustakaan UIN Jakarta; Penyunting: Agus Rifai/Rizki Mulyarahman)
(Dokumentasi, 03 Februari 2026)
Untuk update berita dan informasi lebih lanjut, bisa di akses:











