Kuasai Skill Digital Sekarang Atau Tertinggal? Tantangan SDM Indonesia di Era AI
Gedung Perpustakaan UIN Jakarta — Perubahan besar tidak selalu ditandai oleh suara gemuruh. Kadang, ia hadir diam-diam dalam bentuk pesan otomatis, chatbot yang menjawab tugas administratif, atau mesin yang menulis analisis ekonomi dalam bentuk hitungan detik.
Itulah sekilas, suasana dunia kerja Indonesia hari ini —tanpa disadari, Artificial Intellegence (AI) tengah mengambil alih peran-peran lama manusia, dan membuka peluang baru yang belum pernah dibayangkan bertahun-tahun lalu.
Teknologi Terus Bergerak, Digital Mindset Jadi Syarat Utama
Di tengah derasnya perkembangan teknologi digital, Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi penentu daya saing. Kemampuan mengoperasikan perangkat digital, mengolah data, bekerja dalam sistem online, hingga memahami cara kerja AI, bukan lagi keunggulan —melainkan kebutuhan dasar.
Kepala Perpustakaan UIN Jakarta, Agus Rifai, menegaskan bahwa kesiapan SDM bukan hanya ditentukan oleh fasilitas teknologi, tetapi oleh kemampuan memahami, berpikir, dan menalar. “Teknologi akan terus berkembang. Yang perlu kita perkuat adalah manusianya —cara berpikirnya, ketajaman nalar dan kemampuan memilah informasi,” ujar Agus Rifai saat memperlihatkan koleksi buku perpustakaan, Jum’at (09/01).
Menurut Agus Rifai, generasi muda berisiko tertinggal bila hanya menjadi pengguna pasif. Era AI menuntut manusia menjadi pengelola pengetahuan, bukan penerima informasi semata. Tantangan terbesar saat ini bukan hanya menguasai alat digital, melainkan melatih ‘skill digital dan kemapuan berpikir logis‘ agar tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi mampu menyaring, mengolah dan memanfaatkannya. “Skill Digital akan membuka pintu, tetapi kemampuan bernalar menentukan arah kita melangkah,” tambah Agus Rifai.
Logika untuk Zaman Realitas Baru
Untuk menjawab tantangan tersebut, Perpustakaan UIN Jakarta menghadirkan koleksi yang tak hanya relevan, akan tetapi sangat mendesak untuk dipahami. Salah satu koleksinya, “Menata Nalar, Memahami Kebenaran: Pengantar Logika untuk Masa Ini”, karya Hendro Setiawan.
Di tengah gelombang teknologi yang merombak cara manusia bekerja, belajar, dan berinteraksi, buku “Menata Nalar, Memahami Kebenaran" hadir sebagai panduan penting untuk memastikan bahwa kecerdasan digital tetap berjalan seiring dengan kecerdasan berpikir.
Buku karya Hendro Setiawan ini bukan sekadar pengantar logika seperti yang ditemukan dalam buku kuliah klasik. Ia memposisikan logika sebagai alat bertahan hidup intelektual di era banjir informasi. Ketika media sosial, metaverse, dan kecerdasan buatan mendominasi ruang publik, kemampuan menggunakan akal secara jernih menjadi penentu apakah seseorang mampu membedakan kebenaran dari manipulasi.
Buku ini berpijak pada kenyataan tak terhindarkan: teknologi membuat dunia maya menjadi perluasan dunia nyata. Manusia hidup di dua ruang sekaligus—fisik dan digital—yang penuh jejaring informasi, opini, hingga narasi lain yang sulit diverifikasi.
Hendro menunjukkan bahwa dalam realitas ini, kesesatan berpikir (logical fallacy) bukan lagi fenomena akademik, melainkan problem sosial sehari-hari.
Buku ini hadir tepat waktu. Ketika dunia bergerak dari revolusi industri 4.0 menuju 5.0—era di mana manusia bekerja bersama AI, bukan sekadar menggunakan teknologi—kemampuan berpikir kritis menjadi kompetensi dasar yang wajib dimiliki siapa pun. Tanpa kecakapan memilah informasi, seseorang rentan terjebak hoaks, pengetahuan sulit berkembang, dan keputusan menjadi implusif penuh dengan emosional.
Temukan Koleksi >>> “Menata Nalar, Memahami Kebenaran: Pengantar Logika untuk Masa Ini”
Pada akhirnya, Perpustakaan UIN Jakarta melihat tren baru: bahwa Mahasiswa tidak hanya membutuhkan perangkat dan platform, akan tetapi kerangka ‘Nalar’ untuk memahami dunia modern. Karena itu, selain menyediakan koleksi berbasis teknologi dan kompetensi digital, perpustakaan memasukkan buku-buku logika, filsafat, dan berpikir kritis sebagai pilar literasi baru. “Perubahan teknologi tidak boleh melampaui kemampuan manusia memahaminya,” pungkas Agus Rifai.
Dengan kombinasi keterampilan digital dan pola pikir yang tajam, Mahasiswa dapat menyaring hoaks, Birokrat mampu mengambil kebijikan berbasis data, Akademisi dapat meneliti dengan objektif, dan Masyarakat dapat memahami informasi tanpa mudah tersesat. *RMr
Untuk update berita dan informasi lebih lanjut, bisa di akses:





