Kenang Prof Nabilah Lubis, Perintis Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang Jaga Fondasi Keilmuan
Gedung Perpustakaan UIN Jakarta, Kenang Prof. Nabilah Lubis — Di antara lorong-lorong referensi dan ruang baca yang kini modern, rak-rak buku yang berdiri tegak seperti saksi bisu perjalanan panjang ilmu. Mungkin banyak yang tidak mengetahui, tersimpan jejak seorang perempuan yang pernah menanam fondasi peradaban ilmu: Prof. Nabilah Lubis.
Kabar duka datang pada Sabtu, 28 Februari 2026. Prof. Nabilah Lubis berpulang ke rahmatullah. Kepergian beliau bukan sekadar kehilangan bagi keluarga, dan kolega, melainkan kehilangan sejarah hidup bagi perjalanan intelektual Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta —khususnya bagi Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang hari ini berdiri kokoh menjadi jantung literasi dan resit kampus.
Dari Ruang Sederhana yang Serba Terbatas
Tidak banyak yang tahu bahwa pada periode 1964-1971, ketika institusi ini masih bernama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatulah Jakarta, kondisi perpustakaan jauh dari kata ideal. Infrastruktur terbatas, akses literatur internasional belum luas seperti sekarang, dan sistem pengelolaan akademik belum tertata rapih.
Di masa itulah, Prof. Nabilah Lubis dipercaya menjadi Kepala Perpustakaan.
Di tengah keterbatasan, beliau membawa satu keyakinan sederhana, namun itu menjadi fondasi utama: Kampus yang besar, lahir dari perpustakaan yang kuat.
Di tangan Prof. Nabilah Lubis, perpustakaan mulai di tata secara sistematis. Pengelolaan koleksi diperbaiki, pengadaan literatur diperkuat, dan budaya akademik didorong untuk bertumpu pada referensi ilmiah yang relevan. Beliau membangun kesadaran bahwa tradisi riset yang kuat, lahir dari fondasi literatur yang kokoh.
Langkah-langkah sunyi itu mungkin tidak selalu terlihat di permukaan. Tidak banyak sorotan. Tetapi dari ruang sederhana itulah lahir generasi akademisi yang kemudian mengembangkan studi Islam di Indonesia.
Menjaga Khazanah Keilmuan Islam
Salah satu kontribusi penting Prof. Nabilah Lubis adalah penguatan literatur keislaman —baik klasik maupun modern. Pada era 1960-an, ketika akses terhadap buku, literatur internasional masih terbatas, upaya memperkaya khazanah ilmiah merupakan pekerjaan rumah yang sangat besar.
Dengan jejaring akademik yang dimiliki, beliau mendorong perpustakaan sebagai ruang eksplorasi intelektual, tempat sivitas akademka belajar secara mandiri, meneliti, dan merumuskan gagasan.
Hari ini, ketika Perpustakaan UIN Jakarta telah memiliki layanan digital, repository institusi, dan akses jurnal internasional, jejak sejarah itu tetap terasa. Transformasi digital yang berlangsung sekarang, sesungguhnya berdiri di atas fondasi yang ditanam lebih dari setengah abad lalu.
Dan di antara fondasi itu, ada nama Prof. Nabilah Lubis.
Figur Perempuan yang Melampaui Zamannya
Di era ketika kepemimpinan perempuan di perguruan tinggi masih sangat terbatas, Prof. Nabilah Lubis hadir sebagai sosok yang melampaui zamannya. Ia memimpin bukan hanya secara administratif, tetapi dengan visi dan integritas.
Di ruang yang sering kali didominasi laki-laki, beliau menunjukkan bahwa kualitas akademik dan integritas tidak mengenal batas gender. Kepemimpinannya menjadi bagian penting dari sejarah kontribusi perempuan dalam pembangunan pendidikan tinggi Islam di Indonesia.
Warisan itu kini terasa semakin relevan, beliau dikenang sebagai pribadi yang tekun, konsisten, dan percaya bahwa ilmu adalah amanah.
Warisan yang Tak Pernah Usang
Kini, ketika Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bergerak, dan adaptif menuju tranformasi digital dan penguatan riset berbasis data, ada benang sejarah yang tidak boleh putus. Setiap sistem informasi yang terintegrasi, setiap koleksi digital yang di akses mahasiswa, sesungguhnya melanjutkan fondasi yang telah ditanam lebih dari setengah abad lalu.
Kepergian Prof. Nabilah Lubis pada 28 Februari 2026 menjadi momen refleksi bagi sivitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Bahwa membangun institusi ilmu bukan semata soal gedung megah atau teknologi canggih, melainkan tentang ketekunan, visi jangka panjang, dan keberanian menanam benih yang mungkin baru berbuah puluhan tahun kemudian.
Perpustakaan yang hidup.
Tradisi Riset yang tumbuh.
Mahasiswa yang terus membaca dan menulis.
Semua itu adalah bagian dari warisan yang tak kasatmata, namun terasa nyata.
Selamat jalan, Prof. Nabilah Lubis.
Jejak pengabdianmu bukan hanya tercatat dalam sejarah Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tetapi hidup dalam setiap lembar buku yang dibaca dan setiap gagasan yang lahir dari ruang-ruang ilmu yang pernah engkau jaga dengan sepenuh hati.
(Narasi: Agus Rifai; Desain & Dokumentasi: Rizki Mulyarahman; Penyunting: Agus Rifai/Rizki Mulyarahman)
Untuk update berita dan informasi lebih lanjut, bisa di akses:





