Idul Fitri dan Tradisi Ilmu: Pesan Reflektif dari Perpustakaan UIN Jakarta
Idul Fitri dan Tradisi Ilmu: Pesan Reflektif dari Perpustakaan UIN Jakarta

Hari Kemenangan — Di tengah suasana kemenangan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah, keluarga besar Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menyampaikan ucapan kepada seluruh sivitas akademika dan masyarakat luas. Namun, lebih dari sekadar tradisi tahunan, ucapan tersebut membawa pesan reflektif tentang pentingnya merawat ilmu pengetahuan di tengah perubahan zaman.

Isian Berita 21 Maret 2026 - Hari Raya Idul Fitri 1447 HijriahMelalui pesan resmi yang dirilis, Perpustakaan UIN Jakarta menyampaikan pesan yang sederhana namun sarat makna:
“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah. Min al-‘Aidin wa al-Fa’izin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.”

Ucapan tersebut mungkin terdengar seperti ucapan Idul Fitri pada umumnya. Tetapi bagi sebuah institusi ilmu pengetahuan seperti perpustakaan universitas, pesan itu membawa makna yang lebih luas—tentang bagaimana tradisi keilmuan, nilai spiritual, dan budaya intelektual dapat berjalan beriringan.

Kepala Perpustakaan UIN Jakarta, Agus Rifai, mengatakan bahwa Idul Fitri adalah momentum penting untuk memperbaharui komitmen terhadap ilmu pengetahuan. Pasalnya, kata Agus Rifai, Ramadhan tidak hanya melatih kesabaran dan meningkatkan nilai spiritualitas, melainkan menumbuhkan sikap kedisiplinan dan refleksi diri —nilai-nilai yang sangat dekat dengan tradisi akademik.

“Idul Fitri bukan sekadar penanda berakhirnya ibadah puasa selama bulan Ramadhan. Dalam konteks perguruan tinggi, ini merupakan momentum untuk memperbaharui semangat belajar, memperkuat budaya literasi, serta merawat silaturahmi intelektual di antara sivitas akademika,” ujar Agus Rifai dalam keterangannya, Sabtu (21/03).

Isian Berita - 17 Maret 2026 - Agus Rifai Beberkan Startegi Academic dan Research Skills, Ini yang Harus Dimiliki Mahasiswa (2)Dalam pandangannya, Idul Fitri, kata Agus Rifai, juga mengingatkan bahwa perjalanan ilmu selalu membutuhkan kerendahan hati. Seorang ilmuwan, sebagaimana seorang hamba, harus menyadari bahwa pengetahuan manusia selalu terbatas. “Semangat Idul Fitri mengajarkan kita untuk kembali kepada kesederhanaan, kejujuran, dan kerendahan hati. Nilai-nilai ini juga menjadi fondasi penting dalam dunia akademik,” katanya.

Lebih lanjut dalam keterangannya, Agus Rifai menilai dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan tinggi menghadapi tantangan yang sangat signifikan, khususnya dalam tradisi peradaban intelektual. Transformasi digital mengubah cara orang membaca, mencari innformasi bahkan memproduksi ilmu pengetahuan.

Mahasiswa hari ini, tidak hanya cukup membaca rinngkasan atau kutipan pendek dari internet. Mereka perlu belajar membaca secara mendalam, menelusuri referensi, serta membangun argumentassi berbasis penelitian. Di tengah situasi seperti itulah, menurut Agus Rifai, peran perpustakaan justru semakin penting. “Di sinilah tradisi literasi akademik menjadi sangat penting,” tegas Agus Rifai.

Agus Rifai percaya bahwa masa depan peradaban sangat ditentukan oleh bagaimana masyarakat memperlakukan ilmu pengetahuan. Bangsa yang menghargai buku dan riset akan melahirkan generasi yang berpikir kritis. Namun sebaliknya, bangsa yang menjauh dari tradisi membaca akan kehilangan kemampuan untuk memahami kompleksitas zaman. “Merawat tradisi literasi akademik, pada dasarnya adalah merawat masa depan. Karena dari sinilah lahir ide, riset, dan pemikiran yang membentuk arah peradaban intelektual bangsa,” ujar Agus Rifai.

Di momentum Idul Fitri ini, ia mengajak seluruh sivitas akademika untuk menjadikan kemenangan Ramadan sebagai titik awal semangat baru dalam perjalanan intelektual. Mahasiswa didorong untuk kembali ke kampus dengan gairah membaca yang lebih kuat. Para dosen diharapkan semakin aktif menulis dan meneliti. Sementara para peneliti terus menghasilkan karya yang memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Karena pada akhirnya, di tengah momentum Idul Fitri yang membawa pesan kemenangan, sekali lagi, kita saling mengingatkan bahwa perjalanan manusia menuju kesempurnaan ilmu pengetahuan merupakan sebuah ibadah yang panjang —yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kerendahan hati.
(Kontributor: Rizki Mulyarahman; Dokumentasi: Rizki Mulyarahman; Penyunting: Agus Rifai/Rizki Mulyarahman)


Untuk update berita dan informasi lebih lanjut, bisa di akses:

website_ https___perpus.uinjkt.ac.idWA_ 0823.2122.1957WA Channel Perpustakaan UIN Jakartaemail_ perpustakaan@apps.uinjkt.ac.idIG_ @perpusuinjkt