Gila, Ngga Kaleng-kaleng! Mahasiswi Ini Diam-diam, Terbitkan 8 Buku
Gila, Ngga Kaleng-kaleng! Mahasiswi Ini Diam-diam, Terbitkan 8 Buku

#Cerita_Mahasiswa_UIN Jakarta — Jangan remehkan mahasiswa yang terlihat “biasa saja”.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kampus yang padat —dengan sejuta tugas dan agenda perkuliahan, siapa sangka ada sosok mahasiswi yang memilih “sunyi” sebagai ruang produktivitasnya.

Bukan sekadar tugas kuliah, ia menulis, merangkai kata, lalu diam-diam melahirkan karya —bukan satu, melainkan delapan buku.

Isian Berita 10 April 2026 _ Cerita Najwa (2) Dialah Najwa Lathiifah Saepudin. Statusnya masih aktif sebagai Mahasiswi, semester dua Program Studi (Prodi) Sastra Inggris, Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (seperti yang dilansir berita UIN Online, Jum’at 10 April 2026).

Ia berhasil membuktikan bahwa usia muda bukan menjadi penghalang untuk berkarya.
Tanpa banyak sorotan, Najwa —sapaan akrabnya, menapaki jalannya sendiri —dari lembar kosong hingga deretan buku ber-ISBN yang kini menjadi bukti nyata atas dedikasinya.

Bukan angka kecil.
Bukan capaian kaleng-kaleng.
8 buku berhasil ia terbitkan.

Perjalanannya dimulai dari hal yang sederhana: kegemaran menulis. Dimulai saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), dan atas saran dari Sang Ibu yang melihat bakatnya.
Dari sanalah ­—menulis, ia mulai menyalurkan ide, emosi, dan refleksi diri dituangkan bait demi bait dalam bentuk karya sastra —puisi.

Isian Berita 10 April 2026 _ Cerita NajwaAlhasil, 99 puisi berhasil dikumpulan dalam buku pertamanya yang berjudul “Love Ryhmes For Him”. Tidak hanya berhenti di situ, kemudian ia melanjutkan imajinasi sastranya yang berjudul “Scratched by Love”.

Dua antologi puisi berbahasa inggris itu —tak disangka, menjadi langkah dirinya menembus dunia literasi. “Menulis adalah caraku untuk menyampaikan isi hati terdalam yang bahkan dunia pun tak mampu merasakannya. Aku ingin mereka tahu bahwa ada banyak bentuk rasa di dunia ini, dan semua rasa itu layak untuk didengarkan,” ungkap Najwa.

Tak puas hanya bermain di bait-bait pendek, Najwa mulai menantang dirinya sendiri —masuk ke narasi panjang, kompleks, dan penuh emosi.
Ia tidak sekadar menulis cerita, tapi sedang membangun dunia.
Dunia yang lahir dari riset, dari pengalaman, dan dari “pengumpulan rasa” yang tidak semua orang sanggup menanggungnya.

Dari situlah lahir seri “Dance of Destiny”.
Sebuah semesta cerita dengan rasa, penuh warna emosi.

Isian Berita 10 April 2026 _ Cerita Najwa (3)Berlanjut, Najwa mulai bermain di banyak spektrum.
Dari romansa kerajaan penuh intrik, yang tertulis dalam “A Lie Reveal the Truth Behind Love”. Lalu, agak sedikit berbelok ke drama religi yang lebih kontemplatif lewat “My Life with Mr. Zhuang Yunxi”.

Tersadar, ia tidak mau berhenti di zona aman. Ia masuk lebih dalam —bahkan lebih gelap.
Lewat “Burning Obsession of Mr. and Mrs. Yunxi”, Najwa mengulik sisi obsesif manusia, cinta yang tidak sehat, dan batas tipis antara kasih dan kepemilikan. Dari sana, ia melompat ke genre fantasi melalui “The Mannequin”, sebelum akhirnya menyentuh ranah berbeda: dunia medis dalam novel “Heartbeat”.

Namun, ada satu karya berdiri paling menonjol.
“The Authority of Mr. Maximilian Luo Chengxiao”
Bukan sekedar best seller. Ini adalah di titik di mana Najwa bermain dengan tema berat: sindikat perdagangan manusia.
Gelap, keras, dan tidak nyaman —tapi justru disitulah kekuatannya.
Pesannya sangat tajam: setiap kejahatan selalu punya harga yang harus dibayar.

Isian Berita 10 April 2026 _ Cerita Najwa (4)Di balik itu semua, ada satu fakta yang nyaris tak masuk akal —Najwa tetaplah seorang mahasiswi Sastra Inggris, dengan sejuta tugas dan agenda perkuliahan yang tidak sedikit.

Bedanya? Ia punya acara sendiri untuk “bertahan”.
“Aku menulis ketika ide itu datang. Kalau tidak, aku berhenti dulu. Tapi satu prinsipku: naskah harus selesai. Revisi bisa belakangan,” ungkap Najwa. Ini bukan hanya soal menulis. Najwa juga “kejam” pada manajemen waktunya. Tugas kuliah tidak pernah dibiarkan menumpuk.
Ia memilih untuk menyelesaikannya —agar pikirannya “bersih” saat masuk ke dunia cerita.

Motivasinya pun tidak klise. Karena baginya, menulis bukan beban. Menulis —kata Najwa, adalah hobi yang menyenangkan. “Mungkin tidak semua orang bisa jujur tentang apa yang mereka rasakan. Lewat cerita, aku ingin mereka merasa tidak sendirian,” ungkap Najwa.
Intip Novel dan Antologi Puisi Najwa Lathiifah Saepudin >>>

Di titik inilah, cerita ini bukan sekadar tentang “8 buku”. Ini adalah tentang keberanian untuk mulai, konsistensi untuk bertahan, dan tekad untuk tidak berhenti di tengah jalan.
Karena pada akhirnya, yang membedakan bukan siapa yang paling berbakat —siapa pun, di mana pun, sebenarnya sedang punya kesempatan yang sama —berkarya.

Pertanyaannya tinggal satu: mau mulai, atau tetap menunda?
(Kontributor: Rizki Mulyarahman; Data & Dokumentasi: FAH & PIH UIN Jakarta; Penyunting: Agus Rifai/Rizki Mulyarahman)


Untuk update berita dan informasi lebih lanjut, bisa di akses:

website_ https___perpus.uinjkt.ac.idWA_ 0823.2122.1957WA Channel Perpustakaan UIN Jakartaemail_ perpustakaan@apps.uinjkt.ac.idIG_ @perpusuinjkt