Datang Cuma Library Tour, Pulang Auto Pengen Kuliah! SMK Al-Hidayah ‘Kena Mental’ Lihat Perpustakaan UIN Jakarta
Gedung Perpustakaan UIN Jakarta, Berita Online — Ini bukan sekadar kunjungan. Ini momen ketika ekspresi… runtuh.
Begitu pintu Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta terbuka, suasana langsung berubah.
Pasalnya, Rabu (08/04) pagi itu, puluhan siswa dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Al-Hidayah datang dengan agenda ringan: library tour. Jalan-jalan, lihat-lihat, dokumentasi, selesai.
Bukan perpustakaan yang mereka bayangkan.
Tak ada kesan usang.
Tak ada rasa kaku.
Tak ada aura membosankan.
Yang ada justru ruang modern —hidup, dinamis, dan terhubung.
Layar digital menyala. Akses jurnal internasional terbuka. Ruang belajar terasa seperti creative hub, bukan ruang sunyi yang membatasi.
Beberapa siswa mulai saling pandang.
Sebagian lagi terdiam.
Selebihnya, mulai overthinking.
Didampingi para guru —Mahpud, Azizah, dan Muhammad Yunus, rombongan disambut Tim Perpustakaan: Heru Widodo, Maryulisman, Risma, Hartono, dan Septian Nurhakim. Namun yang mereka dapatkan bukan sekadar sambutan.
Mereka diperlihatkan bagaimana perpustakaan bekerja di level yang berbeda. Dari layanan informasi, konsultasi akademik, hingga akses e-resources —semuanya terintegrasi dalam satu sistem. Satu pintu menuju pengetahuan global.
Di titik inilah, perpustakaan tidak lagi tampil sebagai ruang statis.
Di tengah sesi pengenalan layanan, Maryulisman, Pustakawan Muda UIN Jakarta memperkenalkan salah satu inovasi unggulan —platform “Touch & Go Mobile Library”.
“Melalui “Touch & Go Mobile Library”, mahasiswa tidak lagi bergantung pada ruang fisik. Akses koleksi, layanan, hingga kebutuhan akademik bisa dilakukan secara cepat, praktis, dan terintegrasi langsung dari perangkat mereka,” jelas Maryulisman.
Penjelasan itu seolah semakin menegaskan satu hal:
“perpustakaan kini ada di genggaman”.
Hari ini, menurut Maryulisman, transformasi digital menjadi kata kunci. Perpustakaan UIN Jakarta mengintegrasikan berbagai layanan —mulai dari katalog koleksi, e-book, hingga akses e-resousces, ke dalam satu sistem yang dapat diakses secara fleksibel.
Lebih lanjut Maryulisman menjelaskan bahwa konsep “Library Every Space” menjadi pendekatan yang menegaskan bahwa belajar tidak lagi dibatasi oleh ruang fisik. Perpustakaan hadir dalam berbagai bentuk: ruang diskusi, perangkat digital, hingga akses mandiri dari mana saja.
Konsep “Library Every Space” bukan sekadar slogan semata. Ini nyata. Belajar tak lagi butuh tempat —karena tempatnya ada di mana-mana. Koleksi fisik tetap kuat, namun diperluas dengan akses tanpa batas —jurnal internasional, database akademik, hingga perangkat belajar yang berbasis teknologi.
Kunjungan yang awalnya santai, seketika berubah jadi momen ‘refleksi’ diam-diam.
Literasi, yang selama ini dipahami sebatas buku, mendadak teras sempit.
Di hadapan mereka, literasi tampil sebagai sesuatu yang jauh lebih luas: akses, koneksi, kolaborasi, dan kemampuan bertahan di tengah arus informasi.
Perpustakaan UIN Jakarta seperti mematahkan satu stigma lama —bahwa perpustakaan adalah ruang sunyi. Yang berdiri sekarang adalah ruang hidup, ruang tumbuh, dan ruang yang berkembang.
Menjelang pulang, tak banyak yang diucapkan, karena yang berubah bukan gedungnya —tapi cara pandang mereka.
Dari yang awal hanya ingin berkunjung, kini muncul satu dorongan yang sama: “Gimana caranya bisa kuliah disini?”
(Kontributor: Rizki Mulyarahman; Dokumentasi: Risma, Hartono; Penyunting: Agus Rifai/Rizki Mulyarahman)
(Dokumentasi, 08 April 2026)
Untuk update berita dan informasi lebih lanjut, bisa di akses:























