Akal Manusia Kian Luruh, Benarkah?
Ditulis oleh: Dr. Abdul Mukti, S.Ag., MA.
(Dosen Filsafat dan Pemikiran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Artikel ini telah dipublikasikan di Detik pada Minggu, 8 Maret 2026.
Jakarta - Dunia hari ini sedang terobsesi pada segala hal yang diawali dengan kata "pintar". Ponsel pintar (Smartphone), kota pintar (Smart City), hingga puncaknya pada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Di balik kemudahan yang ditawarkan, terselip sebuah ironi yang mendasar. Ketika mesin semakin menyerupai manusia dalam kemampuan kognisinya, muncul pertanyaan eksistensial yang mengusik, apakah akal manusia sedang berevolusi, atau justru sedang mengalami peluruhan menuju sekadar replika?
Apa yang disebut sebagai "kecerdasan" pada mesin sebenarnya adalah sebuah akal imitasi. Ia bekerja berdasarkan statistik, probabilitas, dan tumpukan data masa lalu. Ia piawai menyusun kata, melukis gambar, hingga merumuskan kode pemrograman dalam hitungan detik. Namun, di balik kecepatan itu, ia hampa. Ia tidak memiliki kesadaran (consciousness), tidak merasakan kegelisahan, dan tidak punya tanggung jawab moral atas apa yang dihasilkannya.
Untuk update berita dan informasi lebih lanjut, bisa di akses:





