Ada Apa dengan Repository UIN Jakarta? Perbanas Institute Gali Pengelolaan Data Riset Terintegrasi
Gedung Perpustakaan UIN Jakarta, Berita Terkini — Di era ketika hasil riset tidak lagi hanya berhenti di ruang sidang yudisium, atau bahkan rak perpustakaan. Saat ini, repository institusi telah menjelma menjadi simpul penting peredaran ilmu pengetahuan yang dapat diakses secara lebih luas. Kesadaran inilah yang membawa Tim Kerja Biro Teknologi Informasi & Perpustakaan Perbanas Institute, serta para pustakawannya untuk menyambangi Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (21/01).
Bukan tanpa alasan. Di balik tampilan layar Perpustakaan UIN Jakarta yang sederhana, tersimpan sistem repository institusi yang telah dikembangkan lebih dari satu dekade ini —yang menjadi rumah digital bagi ratusan ribu karya ilmiah sivitas akademika UIN Jakarta.
Rombongan Perbanas Institute datang bukan sekadar agenda seremonial semata. Melainkan datang dan melakukan studi kunjung dengan rasa ingin tahu yang besar: menggali bagaimana Repository UIN Jakarta dikelola sebagai rak digital sekaligus sarana desiminasi karya ilmiah yang terintegrasi dan berkelanjutan. Selain itu, mereka juga ingin melihat lebih dekat bagaimana data riset dihidupkan dan dimanfaatkan secara lebih luas untuk publik.
Kedatangan tim Perbanas Institute, yang pada kesempatan kali ini disambut hangat oleh Heru Widodo, Mudianah Mahmud, Maryulisman, Priyo Supriyadi, Septian Nurhakim dan Ainur Rofiq. Berlanjut, suasana ini berlangsung akrab di ruang pertemuan lantai 3 gedung Perpustakaan UIN Jakarta, mencerminkan awal ditandainya semangat kolaborasi antarperguruan tinggi di tengah pusaran tantangan digitalisasi.
Kepala Biro Teknologi Informasi & Perpustakaan Perbanas Institute, Dwi Atmodjo Wismono, menjelaskan bahwa studi kunjung ini menjadi bagian dari upaya Perbanas Institute untuk memperkuat ekosistem riset berbasis digital. Ia pun menyampaikan apresiasi atas keterbukaan UIN Jakarta dalam menerima hingga memberikan kesempatan untuk berbagi pengalaman dalam pengelolaan repository institusi.
Suasana diskusi pun berlangsung dinamis. Dalam pemaparannya, Priyo Supriyadi, selaku Pengelola Sistem Informasi Teknologi Perpustakaan UIN Jakarta, mengucapkan rasa terima kasih yang setinggi-tingginya atas kepercayaan Perbanas Institute, yang menjadikan UIN Jakarta —dari sekian banyak perguruan tinggi lainnya, sebagai Role Model dalam pengelolaan sistem repository institusi. Menurutnya, Repository UIN Jakarta dibangun bukan dalam kurun waktu yang singkat, melainkan dengan visi jangka panjang dan berkelanjutan.
“Sejak tahun 2012, UIN Jakarta telah menggunakan repository institusi berbasis open source. Sejak awal, Repository UIN Jakarta ini kami rancang untuk mendukung keterbukaan karya ilmiah akademik. Karya dosen, dan mahasiswa tidak hanya disimpan, akan tetapi juga dapat diakses dan dimanfaatkan secara lebih luas oleh masyarakat,” ujar Priyo.
Lebih lanjut, Priyo menjelaskan bahwa Repository UIN Jakarta disusun secara sistematis berdasarkan fakultas, program studi, serta jenis karya ilmiah, mulai dari skripsi, tesis, disertasi, hingga laporan penelitian. Sivitas akademika pun diberikan ruang untuk melakukan unggah mandiri, namun tetap melalui proses verifikasi oleh pengelola Repository UIN Jakarta di perpustakaan demi menjaga kualitas, keabsahan dokumen, hingga validitas data.
Diskusi pun berkembang hingga mengerucut pada tantangan teknis. Septian Nurhakim menyoroti bahwa pengelolaan Repository UIN Jakarta tidak berhenti pada tampilan antaramuka yang user-friendly, desain atau kemudahan akses semata. “Pengelolaan Repository UIN Jakarta tidak hanya soal tampilan, tetapi juga keamanan dan keberlanjutan sistem. Kami terus berupaya menyeimbangkan kebutuhan pengembangan dengan kesiapan SDM dan infrastruktur yang ada,” jelasnya.
Pada akhirnya, kunjungan Perbanas Institute ini menjadi sebagai penanda bahwa Repository UIN Jakarta telah menjelma sebagai referensi pengelolaan data riset yang terintegrasi dan berkelanjutan. Lebih sekadar arsip digital, Repository UIN Jakarta kini berperan sebagai jembatan antara kampus dan masyarakat luas —yang membuka akses ilmu pengetahuan, memperkuat literasi digital, serta mendorong kolaborasi riset lintas institusi.
Kini, di tengah tuntutan transparan, dan kolaborasi riset global, Repository UIN Jakarta bukan lagi pilihan tambahan, melainkan ruang hidup ilmu pengetahuan, tempat ide-ide akademik bertemu dengan masyarakat luas. Dan dari Gedung Perpustakaan UIN Jakarta inilah, praktik keterbukaan itu terus di rawat, dibagikan dan dikembangkan.
(Kontributor: Maryulisman; Dokumentasi: Rusdi Tumanggor/Ainur Rofiq; Penyunting: Tim Redaksi/RMr)
Untuk update berita dan informasi lebih lanjut, bisa di akses:





